Friday, May 4, 2007

Pasarkan Layanan Perpustakaan Anda dengan Tepat!

Pasarkan Layanan Perpustakaan Anda dengan Tepat! 

oleh: Hendro Wicaksono

Pendahuluan

          Bagi sebagian besar pustakawan di Indonesia, pemanfaatan manajemen pemasaran sudah jamak dilakukan terutama untuk memasarkan produk-produk layanan perpustakaan. Hanya saja, konsep pemasaran baru dilaksanakan secara ala kadarnya, misalnya dengan sekedar membuat dan menyebarkan brosur. Cara tersebut masih sangat sederhana bila  dibandingkan dengan pemasaran produk komersial yang umumnya digarap secara benar-benar serius. Penulis belum pernah melihat terobosan inovatif dalam pemasaran layanan perpustakaan, padahal ada begitu banyak metode dan konsep yang dikembangkan dengan pesat dalam industri pemasaran komersial yang bisa diadopsi untuk kebutuhan perpustakaan.

          Sebaik apapun produk dan layanan perpustakaan, tidak akan ada gunanya bila tidak ada orang yang tahu dan menggunakannya. Karena itu diperlukan sebuah proses yang bernama pemasaran (marketing). Pemasaran adalah ilmu dan seni  mengelola suatu produk dan layanan agar bisa sampai kepada pengguna atau konsumen yang menjadi sasarannya. Disebut sebagai ilmu karena pemasaran menggunakan metode ilmiah dalam penerapannya. Hanya saja, karena kompleksitas aktifitas pemasaran, diperlukan pengalaman dan kreatifitas dalam melakukannya. Mengolah pengalaman dan kreatifitas itulah yang memerlukan seni.   

          Banyak orang berpikir bahwa pemasaran identik dengan kegiatan promosi. Anggapan itu kurang tepat, karena promosi tidak akan banyak gunanya  bila tidak ditetapkan  target penggunanya dan pesan apa yang ingin disampaikan melalui promosi tersebut. Karena itu, strategi merupakan hal yang penting dalam memasarkan layanan perpustakaan.

          Dalam menyusun strategi pemasaran, khususnya di perpustakaan, salah satu  langkah utama adalah menetapkan siapa pengguna potensial perpustakaan. "Know your customer" tidak hanya berlaku untuk organisasi yang berorientasi pada  profit, tetapi juga yang non-profit,  seperti perpustakaan. Dengan mengetahui peta  pengguna potensial layanan perpustakaan, pustakawan bisa merencanakan layanan atau produk yang tepat, atau memilah-milah mana pengguna yang akan diutamakan.

          Ada tiga hal yang perlu diketahui mengenai pengguna potensial perpustakaan. Pertama, tentang kebutuhan informasinya. Dalam hal ini yang dimaksud bukan hanya  subyek apa yang diinginkan, tetapi juga waktu datang ke perpustakaan, jenis informasi  yang diperlukan, dan lain-lain. Kedua, faktor apa saja,  menurut pengguna, yang  merupakan syarat layanan perpustakaan yang ideal, seperti keramahan dan kecepatan respons petugas, ketersediaan informasi, dan lain-lain. Ketiga, layanan dan produk perpustakaan apa saja yang diinginkan oleh pengguna potensial perpustakaan.

          Proses memetakan pengguna perpustakaan disebut segmentasi. Segmentasi membantu pustakawan menyediakan layanan yang tepat untuk dapat memenuhi  beragam kebutuhan pengguna. Ada empat metode untuk melakukan segmentasi yang lazim digunakan di institusi yang berorientasi pada profit:

● Segmentasi geografis, misalnya: berdasarkan daerah/region, pedesaan/perkotaan;

● Segmentasi demografis, misalnya: berdasarkan umur, pekerjaan, kewarganegaraan, agama;

● Segmentasi psikografis. Contoh: kelas sosial dan tipe personalitas.

● Segmentasi tingkah laku, misalnya: intensitas penggunaan produk, loyalitas terhadap merek.

          Meskipun metode segmentasi di atas biasa digunakan untuk institusi yang berorientasi pada profit, institusi non-profit seperti perpustakaan pun bisa menggunakannya. Sebagai contoh:

● Segmentasi geografis, misalnya: berdasarkan lokasi, kota atau gedung yang berbeda;

● Segmentasi demografis, misalnya: berdasarkan fungsi, disiplin ilmu, bahasa;

● Segmentasi psikografis, misalnya: tingkatan manajemen;

● Segmentasi tingkah laku, misalnya: penggunaan layanan, browser yang digunakan.

          Dari ragam metode segmentasi di atas, segmentasi psikografis merupakan salah satu yang populer untuk pemasaran produk komersial di Indonesia. Hal ini menarik karena segmentasi pengguna/konsumen didasarkan pada soft data, seperti nilai yang dianut dan gaya hidup, bukan pada hard data seperti umur, jenis kelamin dan pekerjaan.

          Di lingkungan organisasi non-profit seperti perpustakaan di Indonesia, psikografis masih relatif jarang digunakan. Tulisan ini mencoba mengulas lebih rinci tentang segmentasi psikografis serta bagaimana gambaran implementasinya untuk riset pengguna perpustakaan, agar pustakawan bisa menyediakan layanan yang tepat, sesuai kebutuhan penggunanya.

 

Segmentasi psikografis

          Segmentasi psikografis (selanjutnya disingkat SP) adalah metode pemilahan suatu pasar kedalam segmen-segmen nilai dan gaya hidup (value and lifestyle) yang dianut. Penerapan metode ini didasarkan pada asumsi bahwa dalam lingkungan yang homogen sekalipun, pola aktivitas, konsumsi dan perilaku tiap orang bisa berbeda-beda, tergantung nilai dan gaya hidupnya. SP mencoba mengelompokkan dinamika preferensi dan pilihan konsumen/pengguna berbasiskan kecederungan psikologis.

          Sebagai contoh adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Ilmu Perpustakaan UI angkatan 2005. Meskipun para mahasiswa tersebut merupakan satu angkatan dan kuliah pada jurusan yang sama (homogen), nilai dan gaya hidup yang dianut masing-masing mahasiswa akan mempengaruhi pola kunjungannya ke perpustakaan, misalnya: pola konsumsi, pola kunjungan ke perpustakaan, pola kunjungan ke tempat ibadah, pola belajar, dan lain-lain. Mahasiswa yang aktif  dalam organisasi kemahasiswaan kampus akan mampir ke perpustakaan setiap pagi hari dan bahan yang dibaca pertama kali adalah surat kabar bagian politik dan ekonomi. Lama kunjungan mahasiswa tipe ini tidak lebih dari 1 jam. Di lain pihak, mahasiswa  yang lebih berorientasi studi akan ke perpustakaan setiap sore hari dengan jenis bacaan yang beragam, tetapi kebanyakan yang terkait dengan mata kuliah yang sedang diambil. Lama kunjungan mahasiswa tipe ini dapat lebih dari 2 jam.

          SRI Consulting Business Intelligence (http://www.sric-bi.com/VALS) mencoba membagi konsumen berdasarkan SP ke dalam delapan kategori, yaitu:

1. Innovators

Innovator adalah orang yang sukses, berwawasan luas dengan rasa percaya diri yang tinggi, karena mereka mempunyai sumberdaya yang lebih dari cukup. Mereka memimpin perubahan serta terbuka terhadap ide dan teknologi baru. Innovators merupakan konsumen yang sangat aktif. Pola pembelanjaan mereka mencerminkan cita rasa yang tinggi atau produk dan layanan eksklusif. Citra merupakan hal yang penting bagi innovators, bukan sebagai bukti status atau kekuasaan, melainkan sebagai ekspresi cita rasa, kemandirian dan pribadi. Innovators biasanya merupakan pimpinan bisnis dan pemerintahan yang sedang menanjak karirnya dan gemar mencari tantangan-tantangan baru.

2. Thinkers

Thinkers termotivasi oleh hal-hal yang ideal. Mereka adalah orang-orang yang matang dan reflektif serta menghargai pengetahuan dan rasa tanggungjawab. Mereka biasanya berpendidikan cukup tinggi dan aktif mencari informasi untuk membantu proses pengambilan keputusan. Mereka terus mengikuti perkembangan informasi mengenai berbagai peristiwa dalam lingkup nasional maupun internasional dan terus mencari peluang untuk memperluas pengetahuan mereka. Thinkers cukup respek terhadap institusi status quo, tetapi terbuka akan ide-ide baru. Walaupun pendapatan  mereka lebih dari cukup, thinkers orang yang konservatif dalam berbelanja , dan merupakan konsumen yang praktis. Mereka mencari produk yang tahan lama dan fungsional, serta berharap mendapatkan  nilai lebih dari produk yang mereka beli.

3. Achievers

T ermotivasi oleh keinginan akan pencapaian, achievers mempunyai gaya hidup yang berorientasi tujuan dan komitmen yang kuat terhadap karir dan keluarga. Kehidupan sosial mereka mencerminkan hal ini dan terstruktur antara keluarga, tempat ibadah, dan pekerjaan. Achievers merupakan orang yang konvensional, dan secara politik respek terhadap kekuasaan dan status quo. Mereka menghargai konsensus, sesuatu yang bisa diperhitungkan, keintiman dan pencarian diri, serta lebih menyukai stabilitas dibanding resiko.  Dengan banyak keinginan dan kebutuhan, achievers merupakan konsumen yang aktif. Citra merupakan hal yang penting bagi Achievers. Mereka suka produk dan layanan yang sudah mapan, prestise yang mencerminkan sukses mereka. Karena kehidupannya  yang sibuk, mereka sangat tertarik terhadap alat-alat yang bisa membantu mereka menghemat waktu.

4. Experiencers

Experiencers termotivasi oleh ekspresi diri. Sebagai konsumen yang muda, antusias, dan impulsif, experiencers cepat antusias akan hal-hal baru, tetapi cepat pula merasa   bosan. Mereka mencari variasi dan kesenangan, suka akan hal baru diluar pakem dan mengandung resiko. Energi mereka banyak dihabiskan ditempat-tempat fitnes, olahraga, untuk aktifitas luar ruangan dan aktifitas sosial. Experiencers merupakan konsumen yang royal dan menghabiskan sebagian besar penghasilannya pada fashion, hiburan, dan kegiatan bersosialisasi. Pola pembelanjaan mereka mencerminkan hal-hal yang terlihat bagus dan keren.

5. Believers

Seperti juga thinkers, believers termotivasi oleh hal-hal yang ideal. Mereka konservatif dan konvensional dengan keyakinan yang kongkret berbasiskan pada hal-hal yang tradisional dan mapan seperti: keluarga, agama, komunitas dan negara. Mereka mengikuti rutinitas yang sudah mapan dan terorganisasi disekitar rumah, keluarga, komunitas, dan organisasi sosial dan religius di tempat mereka berada. Sebagai konsumen mereka bisa diprediksi.  Mereka memilih produk dan merek yang sudahdikenal dan secara umum merupakan konsumen yang loyal.

6. Strivers

Strivers kelompok orang yang suka mengikuti mode dan suka hal-hal yang menyenangkan. Karena mereka termotivasi oleh pencapaian, strivers  sangat memperhatikan opini dan persetujuan rek an-rekannya. Uang merupakan ukuran kunci sukses mereka. Mereka menyukai produk-produk yang diasosiasikan sebagai 'produknya orang kaya.' Banyak di antara  mereka melihat diri mereka sendiri sebagai orang yang punya pekerjaan daripada sebagai orang yang merintis karir. Kekurangan skill dan fokus  membuat mereka sulit untuk berkembang. Strivers merupakan konsumen aktif karena aktifitas berbelanja bagi mereka merupakan aktifitas sosial dan kesempatan untuk menunjukkan kepada rekan mereka kemampuan mereka untuk membeli. Sebagai konsumen, mereka impulsif sejauh kondisi keuangan mereka memungkinkan.

7. Makers

Seperti e xperiencers, makers termotivasi oleh mengekspresikan diri. Mereka mengekspresikan diri mereka dan menikmati kehidupan dengan membangun rumah, membesarkan anak-anak, memperbaiki mobil, menanam tumbuhan dan mempunyai cukup skill dan enerji untuk membuat keinginan mereka terpenuhi. Makers adalah orang-orang yang praktis yang mempunyai skill konstruktif dan menghargai diri sendiri. Mereka tinggal dalam konteks tradisional sebuah keluarga, pekerjaan, dan rekreasi fisik, serta kurang berminat terhadap hal-hal diluar itu. Makers curiga terhadap ide-ide baru. Mereka respek terhadap otoritas pemerintah dan buruh yang terorganisasi, tetapi tidak menyukai campur tangan pemerintah terhadap hak-hak individu. Mereka tidak terkesan dengan kepemilikan materi jika tidak praktis dan fungsional, karena mereka menghargai nilai dan fungsional dari suatu kepemilikan. Oleh karenanya,  mereka selalu membeli sesuatu yang memang dibutuhkan dan fungsional.

8. Survivors

Survivors hidup dengan penuh keterbatasan sumberdaya. Mereka sering merasa bahwa hidup berubah terlalu cepat. Mereka merasa nyaman jika menghadapi segala sesuatu yang familiar. Mereka juga sangat memperhatikan keselamatan dan keamanan. Karena mereka harus fokus pada kebutuhan daripada keinginan, survivors tidak menunjukkan motivasi dasar yang kuat. Survivors adalah konsumen yang berhati-hati. Mereka mewakili perkembangan pasar terbaru untuk hampir semua produk dan layanan. Mereka loyal kepada merek favorit, terutama jika mereka bisa membeli dengan diskon.

 

Implementasi di perpustakaan

          Barangkali pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mengimplementasikan SP pada  pengguna perpustakaan. Cara paling mudah adalah dengan melihat penerapannya yang telah dilakukan perpustakaan lain.

          Perpustakaan Nasional Singapura (National Library Board, selanjutnya disebut NLB) pada tahun 2004 pernah melakukan survei "non-user survey & segmentation study". Survei terebut didasari kebutuhan untuk memperbesar kapasitas pembelajaran negara Singapura, agar makin kompetitif dan meningkatkan kemakmuran masyarakat. Perpustakaan umum diposisikan sebagai bagian integral dari infrastruktur pembelajaran nasional, yang secara aktif mendukung Singapura sebagai learning nation. Selain itu NLB punya visi yang lebih ambisius, yaitu membangun sistem perpustakaan kelas dunia yang terjangkau, nyaman, mudah diakses, dan berguna.

          Pertama, NLB mencoba menghitung market share-nya dengan membandingkan target users (pengguna yang menjadi sasaran) dengan non-users (bukan pengguna). Tujuan pemasaran berikutnya adalah untuk memperluas mindshare dan timeshare penggunanya.

          Mindshare adalah keanggotaan aktif dan pemanfaatan perpustakaan. Pada tahun keuangan 2003, NLB telah mempunyai anggota perpustakaan aktif 1.7 juta (0.63 anggota per kapita). Pada tahun 2004 meningkat menjadi 0.97 perkapita. Total kunjungan perpustakaan pada 2003 adalah 34.7 juta (9.1 kunjungan perkapita) dibandingkan 5.5 juta kunjungan pada 1994. Peminjaman buku tumbuh dari 10.1 juta item pada 1994 menjadi 34.8 juta item pada 2003 (9.5 pinjaman perkapita). Kualitas layanan juga meningkat bila dilihat dari perbandingan antara pujian (compliments) dengan dengan keluhan (complaints). Dari 0.3:1 pada 1999 menjadi 17:1 pada 2002. Indeks kepuasan pengguna juga meningkat dari 3.63 pada 1999 menjadi 4.24 pada 2003. Melebihi standar layanan publik Singapura yaitu 4.00.

          Timeshare adalah kemampuan NLB membuat penggunanya lebih banyak  menghabiskan waktu berharganya di perpustakaan daripada menggunakan waktu alternatifnya di luar, seperti menonton film dan berbelanja.

          Meski fakta di lapangan menunjukkan bahwa NLB telah memimpin  pasar untuk layanan perpustakaan dan membaca, perpustakaan tersebut masih merasa belum sepenuhnya memanfaatkan potensi pasar. Untuk itu diperlukan strategi pemasaran yang bisa menjawab tantangan perubahan yang terjadi di masyarakat. Pemasaran tradisional memang berkisar pada penjualan produk fisik dan penerapannya terbatas pada institusi dalam penjualan produknya, sedangkan masa sekarang, pemasaran lebih diarahkan kepada bagaimana sebuah pesan bisa sampai kepada konsumen dan meyakinkan mereka untuk menggunakan sebuah layanan. Dalam konteks layanan publik, setiap warganegara adalah homogen dan konsumen yang setara dalam hak mendapatkan layanan.

          Sebagai sebuah institusi publik, perpustakaan harus menyediakan "sesuatu untuk semua orang" atau bahkan "semua untuk semua orang". Untuk menjawab ini, perpustakaan harus mendefinisikan segmen pengguna/konsumennya terlebih dahulu. Langkah ini untuk memudahkan perpustakaan dalam memahami kebutuhan pengguna dan bagaimana memenuhinya. Oleh karenanya, pada Oktober 2004 NLB memutuskan untuk melakukan "non-user survey & segmentation study" sebagai alat bantu dalam memetakan segmentasi pengguna/konsumen.

          Berikut profil segmen pengguna/konsumen berdasarkan SP dari hasil survei tersebut:

Karakteristik Segmen

Keanggotaan Perpustakaan

Gaya Hidup Membaca

Career minded

Middle age , mempunyai pendidikan sekunder, 73% menikah dan mempunyai anak, menganggap perpustakaan sebagai sumber informasi utama, menganggap perpustakaan sebagai tempat utama bagi anak-anak, membaca hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan dan lain-lain yang bersifat rekreasi.

79%

70% merupakan pembaca tetap; membaca yang berhubungan dengan pekerjaan dan yang bersifat rekreasi.

Active Info-Seeker

56% pengguna reguler, 25% berkunjung seminggu sekali, punya keinginan yang tinggi untuk mencari informasi, membaca yang terkait dengan pekerjaan, juga yang tidak terkait dengan pekerjaan dan materi-materi untuk self-improvement.

66%

Punya keinginan yang tinggi untuk mencari informasi, membaca yang terkait dengan pekerjaan, juga yang tidak terkait dengan pekerjaan dan materi-materi untuk self-improvement.

Self-supplier

Pembaca reguler dan aktif, 33% lulusan universitas, kompeten bidang TI, pembeli buku, sebagian besar jarang dan merupakan non-user perpustakaan.

77%

Pembaca reguler dan aktif; lebih suka membeli daripada meminjam buku; 54% membaca 1-3 buku/bulan dan 28% membaca 3-5 buku/bulan.

Casual reader

64% merupakan peminjam buku perpustakaan, 78% pengguna reguler, menghabiskan waktu senggangnya dengan melihat TV dan mendengar musik.

84%

78% pembaca reguler; bersikap positif terhadap kegiatan membaca.

Narrow-focused learner

Sebagian besar pelajar, 54% dengan pendidikan tersier (tertiary education), 72% mengombinasikan kunjungan perpustakaan sekalian bertemu dengan teman.

88%

Membaca sebagai bagian dari kurikulum pendidikan

Low motivator

50% minimal berpendidikan tinggi atau politeknik, 56% mengunjungi perpustakaan 2-3 kali/bulan, 17% tidak pernah mengunjungi perpustakaan.

63%

Bersikap sangat tidak positif terhadap kegiatan membaca

Facilitator

Sebagian besar pekerja kerah biru (buruh), ibu rumah tangga, dan pesiunan, 60% wanita, 18% tidak mempunyai pendidikan formal, 37% pendidikan dasar, 53% tidak pernah mengunjungi perpustakaan, menempatkan perpustakaan sebagai tempat ideal untuk anak-anak.

33%

74% adalah non-readers; tidak tertarik dengan pembelajaran yang tidak berhubungan dengan pekerjaan

 

Dari hasil studi SP, NLB kemudian membuat strategi pemasaran perpustakaan, yaitu:

 

Strategi untuk internal dan eksternal

1. Pengembangan Staf

NLB mulai dengan program pengembangan pustakawan dengan memetakan proses pengembangan karir di NLB. Dengan melakukan analisis kebutuhan pelatihan, NLB kemudian mengumpulkan informasi yang relevan bagi pengembangan kompetensi staf.

2. Evaluasi tempat dan positioning

Di samping melakukan transformasi pustakawan, NLB juga memindahkan lokasi  perpustakaan ke tempat yang lebih menarik perhatian, mudah terlihat, mudah diakses, dan terletak ditengah-tengah komunitas penggunanya. Arsitektur gedung baru yang mencerminkan semangat pembelajaran, diharapkan bisa mengubah citra perpustakaan dari tempat yang dingin, tidak menarik dan tidak bersahabat menjadi sebagai tempat yang menyenangkan, 'keren', dan modern. Yang juga tidak kalah penting adalah koleksi harus mutakhir, tingkat ketersediaan tinggi, format beragam, termasuk buku dan majalah best-seller. Dengan visi baru yang ambisius, NLB memposisikan dirinya tidak menjadi distributor buku tetapi mitra dalam perjalanan pembelajaran individu.

 

Strategi teknologi

NLB yakin bahwa teknologi adalah alat bantu yang efektif dan efisien untuk mewujudkan layanan yang prima, bukan malah menjauhkan pengguna dari perpustakaan. Untuk kenyamanan dan penghematan waktu misalnya, NLB sudah memanfaatkan teknologi untuk pengembalian koleksi secara terotomasi menggunakan frekuensi radio, dan layanan self-check. NLB juga menyelenggarakan layanan perpustakaan digital (eLibraryHub), sehingga  perpustakaan bisa diakses setiap warganegara hingga ke ruang tidur, dan mengakses katalog perpustakaan dan konten elektronik lain via internet, kapanpun dan dimanapun.

Kolaborasi dengan media

Media dalam perspektif NLB bukanlah "paparazzi" tetapi mitra utama dalam usaha re-branding   perpustakaan. NLB secara aktif mengajak dan berkolaborasi dengan media dalam banyak program-program besar. Dalam setiap acara kampanye perpustakaan misalnya, media diberi tempat khusus dan terhormat.

Contoh Kuesioner SP

            Survei SP paling sering dilakukan dengan metode kuesioner. Berikut ini beberapa contoh isi pertanyaan kuesioner SP.

1. Saya lebih sering tertarik dengan teori.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

2. Saya suka orang dan benda yang luar biasa.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

3. Saya suka variasi didalam hidup saya.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

4. Saya senang membuat sesuatu yang bisa saya gunakan tiap hari.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

5. Saya mengikuti tren dan fashion terbaru.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

6. Seperti yang dikatakan dalam alkitab, dunia diciptakan dalam 6 hari.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

7. Saya suka berada dalam suatu kelompok.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

8. Saya suka belajar tentang seni, budaya dan sejarah.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

9. Saya sangat tertarik hanya pada sebagian kecil hal.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

10. Saya lebih suka membuat sesuatu daripada membelinya.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

11. Saya berpakaian lebih rapi daripada sebagian besar orang.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

12. Saya memiliki kelebihan dibanding orang lain.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

13. Saya merasa diri saya adalah seorang intelektual.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

14. Saya musti mengakui bahwa saya suka pamer.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

15. Saya suka mencoba hal-hal baru.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

16. Saya sangat tertarik bagaimana benda-benda mekanik seperti mesin, bekerja.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

17. Saya suka berpakaian model terbaru.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

18. Terlalu banyak seks di televisi belakangan ini.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

19. Saya suka memimpin orang lain.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

20. Saya suka melewati setahun atau lebih di daerah pedesaan.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

21. Saya musti mengakui bahwa ketertarikan sempit dan terbatas.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

22. Saya suka membuat benda-benda dari kayu, metal dan ragam material lainnya.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

23. Saya ingin dibilang fashionable.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

24. Saya suka tantangan melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

25. Saya suka belajar banyak hal meskipun tidak banyak gunanya buat saya.

a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

26. Saya suka membuat sesuatu dengan tangan saya sendiri.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

27. Saya suka melakukan banyak hal yang baru dan berbeda.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

28. Saya suka melihat-lihat di toko otomotif dan pertukangan.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

29. Saya ingin memahami bagaimana bumi ini bekerja.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

30. Saya suka hidup saya hampir sama dari minggu ke minggu.

(a) Sangat Tidak Setuju. (b) Setuju. (c) Tidak Setuju. (d) Sangat Tidak Setuju

 

 

Penutup

          Sudah saatnya perpustakaan menggunakan teknik pemasaran modern yang terbukti sukses dan digunakan di banyak organisasi yang berorientasi kepada profit. Strategi pemasaran yang baik membutuhkan gambaran yang tepat tentang profil konsumen atau penggunanya.

          Segmentasi Psikografis adalah salah satu metode yang banyak digunakan untuk memetakan konsumen/pengguna berdasarkan nilai dan gaya hidup yang dianut. Metode ini bisa digunakan untuk lingkungan institusi non-profit seperti perpustakaan. Perpustakaan Nasional Singapura (NLB) sudah terbukti mampu membuat strategi pemasaran yang lebih baik kepada penggunanya dengan menggunakan metode ini.

          Penulis berharap metode ini bisa diterapkan oleh berbagai institusi perpustakaan di Indonesia sebagai suatu strategi pemasaran yang lebih baik. Dengan demikian, perpustakaan akan bisa memberikan layanan yang tepat untuk penggunanya, dan membangun lingkungan pembelajaran bagi masyarakat.

 

Bibliografi

 

Scammell, A., ed. 1997. Handbook of Special Librarianship and Information Work. London, Aslib,

SRI Consulting Business Intelligence. VALS: psychology of markets, URL: http://www.sric-bi.com/VALS/

 

Varaprasad, N; Johnson Paul and Lena Kua. Gaining Mindshare and Timeshare: Marketing Public Libraries, URL: http://eprints.rclis.org/archive/00004603/01/GainingMindshare&Timeshare_010905_.pdf .      

 

[Hendro Wicaksono adalah pustakawan di Perpustakaan Departemen Pendidikan Nasional].

 

PERPUSTAKAAN SEBAGAI TEMPAT PEMBELAJARAN SEUMUR: (LIFE LONG LEARNING)

PERPUSTAKAAN SEBAGAI TEMPAT   PEMBELAJARAN SEUMUR HIDUP (LIFE LONG LEARNING) 

Oleh: Eka Wardhani 

A.     Pendahuluan

"Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat"

(HR Nabi Muhammad SAW)

Semangat menuntut ilmu merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Manusia dapat meningkatkan derajatnya karena ilmu pengetahuan. Manusia dapat bertahan hidup di dunia yang "liar" juga karena ilmu pengetahuan. Bahkan manusia bisa memperluas wilayah hidupnya hingga ke angkasa luar juga menggunakan ilmu pengetahuan. Karena itu, ungkapan di atas memang sangat tepat digunakan untuk menggambarkan sebuah proses pencarian ilmu pengetahuan yang sering juga kita sebut sebagai proses belajar. Proses belajar sesungguhnya tak mengenal waktu maupun tempat. Dengan kata lain bahwa ilmu pengetahuan bisa kita dapatkan dimanapun dan kapanpun.

Proses belajar dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:

1.      Melalui jalur formal, yaitu proses belajar yang menggunakan kurikulum standar yang disampaikan dan dibimbing oleh guru. Proses ini terdiri dari berbagai tingkatan mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar (SD), SLTP, SMU hingga tingkat perguruan tingi dan pascasarjana yang diselenggarakan oleh lembaga pemerintah maupun swasta. Proses belajar ini harus dilalui tahap demi tahap.

2.      Melalui jalur non-formal, yaitu proses belajar melalui kursus atau pelatihan yang banyak diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Proses belajar informal biasanya tidak menggunakan kurikulum akan tetapi ada paket belajar yang harus ditempuh oleh siswanya. Dalam prosesnya tetap ada seorang pembimbing yang memberikan arahan dan petunjuk dalam penguasaan sebuah pengetahuan.

3.     Otodidak, yaitu proses belajar secara mandiri tanpa melalui kurikulum maupun guru. Proses belajar ini bisa dilakukan dengan banyak membaca buku, diskusi, sharing dengan orang lain atau melalui pengalaman dalam melakukan sesuatu sehingga pengetahuan kita dapat bertambah karena pengalaman tersebut (tacid knowledge). Jalur otodidak biasanya ditempuh karena berbagai alasan, di antaranya karena usia yang sudah melebihi batas  atau karena tidak adanya biaya untuk menempuh jalur formal.

Proses belajar melalui jalur formal biasanya dibatasi oleh usia karena memang harus berjalan tahap demi tahap, sedangkan jalur non-formal maupun otodidak tidak dibatasi oleh usia. Proses belajar secara otodidak dilakukan secara mandiri dengan didukung oleh sumber-sumber informasi yang banyak tersedia di perpustakaan umum. Proses pembelajaran secara otodidak inilah yang sering disebut sebagai pembelajaran seumur hidup atau "life long learning". Proses penyediaan dan pemilihan sumber informasi  yang meliputi seluruh subjek yang ada dan tepat sasaran oleh perpustakaan akan memberikan dukungan yang sangat baik bagi masyarakat yang memilih jalur otodidak. Karena itu, keberadaan perpustakaan dengan penyediaan sumber informasi yang lengkap sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang tidak mempunyai kesempatan menempuh jalur pendidikan formal maupun non-formal.

Pembelajaran dan perpustakaan merupakan dua hal yang saling berkaitan dan saling menunjang. Keterkaitan tersebut terlihat dalam salah satu fungsi perpustakaan sebagai tempat belajar sedangkan perpustakaan merupakan fasilitas bagi optimalisasi pembelajaran yang sedang berjalan. Kedua bidang ini mempunyai hubungan simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan. Peran perpustakaan dalam memfasilitasi proses belajar seumur hidup akan dibahas dalam artikel ini. Hal-hal yang berkaitan dengan peran tersebut diantaranya bagaimana format dan metode yang dapat diterapkan oleh perpustakaan dalam mensukseskan misi ini juga akan dibahas lebih lanjut.

 

B.     Perpustakaan sebagai salah satu fasilitator pendidikan

Banyak ahli pendidikan yang menyadari bahwa pendidikan terutama sekolah (formal) kurang mampu memenuhi tuntutan kehidupan. Karena itu, dalam pertemuan internasional yang diprakarsai badan PBB urusan pendidikan dan kebudayaan, UNESCO, mereka menyepakati perlunya pendidikan seumur hidup (Sa'adah 2006:1). Pemikiran ini sejalan dengan pendapat pakar pendidikan yang juga mantan Mendikbud, Fuad Hasan, (disampaikan saat menjadi pembicara kunci pada seminar "Rekonstruksi dan Revitalisasi Indonesia Menuju Masyarakat Madani" di Jakarta tanggal 2 September 20050), yang menyatakan bahwa pendidikan dalam arti luas merupakan ikhtiar yang ditempuh melalui tiga pendekatan yaitu pembiasaan, pembelajaran dan peneladanan. Ketiga aspek tersebut berlangsung sepanjang perjalanan hidup manusia.

Berkaitan dengan hal tersebut, yang perlu digarisbawahi bahwa pendidikan dapat ditempuh melalui pendekatan pembiasaan, pembelajaran dan peneladanan. Artinya bahwa sebenarnya pendidikan harus dimulai sejak kecil dalam lingkungan yang paling kecil pula yaitu keluarga. Ketiga proses pendekatan tersebut akan berhasil jika diawali dari lingkungan dimana seorang anak sering berada. Akan tetapi pola pendidikan kebanyakan masyarakat Indonesia seringkali terpaku pada sekolah formal. Sehingga pola-pola pendekatan tersebut terkadang tidak bisa berjalan secara maksimal dan tidak memberikan hasil belajar yang optimal. Untuk mengejar keterlambatan ini diperlukan upaya-upaya dari pihak pengelola dan pemerintah untuk memaksimalkan segala potensi yang ada agar ketiga pola pendekatan dapat berjalan secara maksimal, sehingga  tercapai hasil belajar yang optimal.

Salah satu pola pembiasaan yang sangat membantu bagi proses belajar adalah membaca dan menemukan sumber referensi yang sangat berguna bagi kepentingan pencarian ilmu pengetahuan yang sedang dijalani. Pembiasaan membaca akan sangat dipengaruhi oleh fasilitas dan peneladanan dari para orang tua. Tanpa penyediaan fasilitas buku-buku yang bermutu dan bimbingan orangtua atau guru disekolah hal ini akan sulit dicapai. Akan tetapi sebenarnya masih ada alternatif lain untuk pemenuhan fasilitas membaca bagi masyarakat yaitu dengan memperkenalkan perpustakaan kepada anak-anak sejak kecil. Mulai dari lokasi perpustakaan, apa yang terdapat di dalamnya hingga bagaimana cara menemukan informasi yang terdapat di sana. Hal ini akan sangat membantu bagi para orang tua dalam memenuhi kebutuhan membaca bagi anak-anak maupun diri mereka sendiri.

Fungsi utama perpustakaan ada 5, yaitu penyimpanan, pendidikan, penelitian, informasi dan rekreasi kultural (Qalyubi, 2003:15-17). Masih dalam sumber yang sama disebutkan bahwa  fungsi perpustakaan sebagai tempat pendidikan mengandung arti bahwa perpustakaan merupakan tempat belajar seumur hidup. Hal ini dapat dijelaskan lebih lanjut bahwasanya perpustakaan sebagai penyedia sumber informasi dapat digunakan oleh semua orang tanpa memandang umur, pekerjaan, status dll sehingga proses belajar dapat berlangsung secara berkesinambungan dan berjalan seumur hidup. Dengan demikian, berarti juga bahwa perpustakaan juga dapat berperan sebagai fasilitator pendidikan bagi masyarakat.

Masalahnya sekarang adalah bahwa perpustakaan yang mempunyai potensi sebagai fasilitator pendidikan tersebut terkadang masih dipandang miring dan negatif. Perpustakaan masih sering dianggap sebagai gudang atau tempat penyimpanan buku. Yang harus dilakukan adalah bagaimana mengembangkan perpustakaan menjadi penentu pola dan kecenderungan (pattern and trend setter) perilaku masyarakat. Dengan demikian pola pembiasaan membaca tidak perlu dilakukan dengan susah payah, karena masyarakat merasa mempunyai "gengsi" tersendiri ketika datang dan menggunakan layanan baca di perpustakaan.

Pola pikir masyarakat tentang perpustakaan memang harus diubah. Tentu saja ini bukan pekerjaan yang mudah, karena kita tidak bisa memaksa masyarakat begitu saja untuk mengikuti pola pikir kita secara utuh. Salah satu cara untuk mengubah pandangan tersebut adalah dengan menunjukkan jati diri perpustakaan yang sebenarnya dan memberikan jaminan bahwa perpustakaan akan memberikan layanan yang terbaik bagi masyarakat. Hal ini sangat penting dilakukan mengingat daya pikir masyarakat yang semakin kritis dalam memandang sesuatu.

Perubahan yang terjadi dalam sebuah organisasi merupakan sesuatu yang lumrah dan dapat terjadi kapan saja. Hal ini dikarenakan pemikiran masyarakat yang selalu berkembang dan mengikuti pola perkembangan. Perubahan yang dilakukan semata untuk langkah perbaikan dan pencapaian hasil yang optimal. Sebagai sebuah penyedia jasa layanan perpustakaan harus selalu mengalami perubahan dalam masukan (input), proses, maupun keluarannya (output).

Perubahan masukan di perpustakaan, di antaranya: pembaharuan koleksi perpustakaan agar informasi yang disajikan selalu mutakhir,  atau pembaharuan tata ruangan atau desain interior perpustakaan agar pengguna selalu merasa nyaman,  fresh dan tidak bosan. Proses administrasi yang ada di perpustakaan juga tidak perlu dilakukan secara berbelit-belit. Kalau perlu,  pengguna cukup mengakses perpustakaan dari rumah masing-masing sehingga tidak perlu datang secara fisik ke perpustakaan. Perubahan output  atau keluaran perpustakaan akan terlihat dari reaksi pengguna setelah menggunakan perpustakaan. Apa yang dirasakan oleh pengguna apakah mereka merasa puas atau tidak dengan layanan yang diberikan itulah hasil output perpustakaan. Peningkatan hasil keluaran akan terjadi bila  layanan yang diberikan ditingkatkan. Peningkatan layanan ini akan tercapai bila pengguna mendapatkan apa yang mereka inginkan, di antaranya tergantung dari seberapa lengkap koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan itu sendiri. Sebuah penelitian  di United Kingdom menyatakan bahwa hubungan antara perubahan koleksi dengan layanan adalah berbanding lurus. Ketika koleksi meningkat 79% , akademisi menyatakan bahwa pelayanan yang diberikan meningkat. Ketika pelayanan perpustakaan ditingkatkan maka 70% pengguna mengatakan bahwa koleksi perpustakaan itu lebih baik (Evens, 1996:80). Hal ini menunjukkan bahwa perbaikan koleksi perpustakaan juga akan meningkatkan citra pustakawan dan perpustakaan terhadap penggunanya.

Dengan menyediakan koleksi yang memenuhi kebutuhan pengguna dan memberikan layanan yang dapat memuaskan pengguna diharapkan perpustakaan akan mendapatkan citra yang baik di masyarakat, sehingga masyarakat merasa membutuhkan perpustakaan dan masyarakat selalu ingin mengunjungi perpustakaan untuk  mendapatkan solusi bagi persoalan yang mereka hadapi. Pada akhirnya perpustakaan dapat menjadi fasilitator dalam belajar dan menjadi sumber informasi bagi penyelesaian persoalan masyarakat

 

C.     Perpustakaan dan life long learning

Dari beberapa pendapat yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa perpustakaan sebagai tempat pembelajaran seumur hidup mengandung pengertian sebagai berikut:

1.      Perpustakaan sebagai tempat belajar yang abadi

Sebagai pusat pengetahuan, perpustakaan selalu menyediakan sumber informasi yang tidak akan pernah habis. Walaupun penggunanya berganti-ganti, bervariasi dan koleksinya digunakan terus menerus, pengetahuan yang terhimpun di perpustakaan tidak akan habis, bahkan akan bertambah sesuai pola pengembangan koleksi  yang dilakukan oleh pengelola.

2.      Perpustakaan juga melayani semua orang termasuk orang sakit

Sebagai sara pembelajaran seumur hidup, perpustakaan tidak saja diperuntukkan bagi orang yang sehat, akan tetapi juga bagi orang yang sakit. Dalam ilmu perpustakaan dikenal istilah biblioterapi. Biblioterapi adalah usaha meringankan maupun mengurangi penderitaan pasien yang sakit jasmani maupun rohani dengan memberikan bacaan-bacaan agama, kejiwaan maupun bacaan ringan (Lasa HS, 1998:11).  Biblioterapi ini kebanyakan dilakukan oleh rumah sakit yang sadar akan pentingnya pengalihan rasa sakit melalui bacaan. Pemberian bahan bacaan yang menarik diharapkan akan memberikan dampak poistif bagi  kejiwaan pasien. Dengan demikian diharapkan kondisi fisiknya juga akan ikut membaik dan proses penyembuhannya dapat dipercepat.

3.      Perpustakaan tidak memandang status pengguna

Perpustakaan umum tidak pernah membedakan status penggunanya. pejabat, PNS, swasta, rakyat jelata gelandangan sekalipun dapat menggunakan jasa layanaan  perpustakaan. Mereka mempunyai hak dan fasilitas yang sama dalam menggunakan jasa perpustakaan.

4.      Perpustakaan dapat menjadi alternatif tempat belajar bagi anak putus sekolah, dan anak dari keluarga miskin atau ekonomi lemah.

Kita seringkali melihat banyak anak-anak yang kerjaannya mengemis atau meminta-minta di perempatan jalan. Bagi sebagian orang mungkin hal itu merupakan fenomena biasa, akan tetapi sesungguhnya hal ini sangat menghawatirkan. Mereka yang usianya masih usia sekolah dipaksakan untuk melakukan hal yang kurang produktif. Hal ini bisa menjadi masalah nasional karena berkaitan dengan tujuan negara dalam mengentaskan kemiskinan tidak juga tercapai dan melanggar UUD 1945 pasal 1 yang berbunyi "Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara". Alasan ekonomi boleh jadi merupakan faktor utama sebagai penyebabnya akan tetapi hak mereka untuk memperoleh pengetahuan tidak boleh diabaikan. Disinilah peran perpustakaan sangat dibutuhkan dalam mencukupi kebutuhan belajar anak-anak tersebut dengan menyediakan bahan bacaan bermutu dan membangun minat baca dalam komunitas tersebut. Dengan demikian perpustakaan dapat memberi sedikit harapan bagi anak-anak tersebut dalam mengenal dunia yang lebih luas dengan membaca dan pada akhirnya akan menjadi jalan untuk mengentaskan mereka dari jebakan kemiskinan.

 

D.    Perpustakaan pendukung learning community

Persoalan kemiskinan yang menjadi momok bagi negeri ini sudah meluas tidak saja berarti kemiskinan secara ekonomi, akan tetapi makna kemiskinan di sini dapat meluas ke sektor-sektor lain ketika masyarakat terhimpit dalam masalah yang sangat kompleks. Misalnya saja miskin informasi, miskin akses, miskin pengetahuan, miskin agama, miskin moral dsb. Dalam kondisi semacam ini masyarakat tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan produktif secara swadaya. Harus ada uluran tangan dari pemerintah untuk kembali memberdayakan masyarakat dengan membangun persatuan dan kesatuan untuk bersama-sama maju dan mengentaskan kemiskinan tersebut. Penyelesaian persoalan sesungguhnya dapat dimulai dengan mempermudah akses masyarakat dalam berbagai bidang, seperti bidang pendidikan, informasi, dsb. Dengan demikian, masyarakat merasa terbantu dengan kemudahan tersebut dan dapat kembali membuka diri serta berupaya menyelesaikan persoalan secara mandiri. Pembukaan akses dapat dimulai dengan memberdayakan perpustakaan sebagai alternatif tempat belajar secara mandiri.

Perpustakaan sebagai tempat pendidikan seumur hidup dituntut untuk aktif dalam memaksimalkan jasa informasi yang disediakan. Hal ini berarti perpustakaan tidak boleh hanya menunggu pengguna datang ke perpustakaan, akan tetapi perpustakaan perlu untuk menciptakan motivasi dan inovasi yang dapat menarik pengunjung lebih banyak dan membuat pengunjung merasa betah dan mencintai perpustakaan. Sehingga citra perpustakaan di mata  pengguna    akan berubah kearah yang lebih baik. Untuk itu perpustakaan perlu menerapkan strategi perubahan yang sangat diperlukan dalam proses ini. Dalam ilmu manajemen tipologi perubahan dibedakan menjadi 3:

1.      Replikasi perubahan tanpa disesuaikan dengan kondisi organisasi;

2.      Adaptasi perubahan sesuai dengan kondisi lokal;

3.      Perubahan orisinal berasal dari organisasi yang bersangkutan.

Dari ketiga tipologi perubahan yang ada, tipe perubahan adaptasi merupakan yang cukup efektif dan efisien. Dalam perubahan tipe ini suatu oraganisasi tidak merombak keseluruhan organisasi. Perubahan yang dilakukan menyesuaikan dengan kebutuhan perubahan yang diinginkan. Tentu saja bagian yang masih dianggap berpotensi masih tetap dipertahankan. Adaptasi perubahan  oleh perpustakaan dapat dilakukan dengan menerapkan teknologi informasi dalam pekerjaan-pekerjaan perpustakaan, sehingga perpustakaan dapat menyesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi.

Adaptasi lain yang bisa dilakukan adalah dengan mengubah paradigma perpustakan dari yang berorientasi kepada koleksi beralih ke perpustakaan yang berorientasi kepada akses terhadap informasi. Pada saat ini prestasi perpustakaan bukan lagi diukur berdasarkan kekayaan koleksi dan jumlah pengunjung yang datang langsung ke perpustakaan melainkan dari jumlah orang yang menggunakan layanan perpustakaan tersebut meskipun mereka tidak datang secara fisik (Mustafa, 1998:177). Paradigma layanan pun harus diubah dari  layanan pasif ke layanan aktif. Dalam layanan aktif pustakawan hendaknya aktif dalam membangun komunitas pengguna untuk dapat mengoptimalkan koleksi yang ada agar bisa digunakan secara maksimal.

 Dalam buku Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi, (2003:342) disebutkan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam suatu perubahan yaitu:

1.      Berani menerapkan konsep pemecahan masalah secara sistematis;

2.      Berani bereksperimentasi;

3.      Belajar dari pengalaman diri sendiri;

4.      Transfer informasi dan pengetahuan;

5.      Keterlibatan seluruh karyawan.

Hal-hal tersebut di atas perlu diperhatikan ketika sebuah organisasi ingin berubah, terutama bagi pemimpin organisasi tersebut. Kesemuanya itu harus dianggap sebagai tantangan yang harus dilalui agar perubahan yang diinginkan dapat benar-benar terwujud. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah bahwa dalam menghadapi permasalahan perpustakaan hendaknya mempunyai konsep yang sistematis. Untuk itu perpustakaan harus belajar dari pengalaman dan berani mencoba berbagai macam konsep yang ditawarkan, sehingga didapatkan konsep yang paling cocok  untuk menyelesaikan masalah. Konsep yang dianggap cocok dapat diterapkan dan dimintakan tangapannya dari pengguna untuk dijadikan bahan evaluasi. Selanjutnya pihak perpustakaan dan stafnya dapat melakukan sharing sebagai wujud transfer informasi dan pengetahuan untuk menentukan konsep tersebut sudah benar-benar cocok atau tidak. Keseluruhan proses tersebut akan berhasil dengan baik bila semua staf terlibat. Karena itu, untuk selalu melakukan perubahan, diperlukan sosok kepemimpinan yang bisa memotivasi karyawannya.

Masih dalam sumber yang sama,  di halaman 345, disebutkan  bahwa perubahan memerlukan metode strategis:

1.      Mengubah mindset melalui pelatihan-pelatihan achievement, motivation, team building , ketrampilan-ketrampilan human relations, dan lain-lain;

2.      Menggunakan sekelompok kader yang menjadi agen perubahan;

3.      Mendayagunakan teknologi untuk mencapai keunggulan yang kompetitif.

Sebagai fasilitator pembelajaran seumur hidup perpustakaan harus mampu mendidik penggunanya agar mengerti dan memahami bagaimana memanfaatkan sumber-sumber informasi yang ada secara optimal. Untuk itu, di perpustakaan sendiri perlu adanya pengkaderan bagi relawan-relawan yang peka terhadap persoalan pendidikan untuk bersama-sama membentuk sebuah komunitas belajar yang dapat memfasilitasi proses belajar seumur hidup.

Komunitas tersebut tidak akan terbentuk bila tidak ada bimbingan dan kesempatan yang diberikan oleh pihak perpustakaan, mengingat masyarakat sendiri kurang mengerti pentingnya sebuah perpustakaan. Langkah-langkah yang hendaknya ditempuh oleh sebuah perpustakaan dalam membentuk komunitas belajar yaitu:

1.      Mensosialisasikan perpustakaan kepada masyarakat;

2.      Mencari relawan yang bisa dijadikan sebagai kader perpustakaan;

3.      Membentuk komunitas-komunitas belajar di sekitar perpustakaan;

4.      Menyediakan tempat yang nyaman dan akomodatif;

5.      Memantau perkembangan kebutuhan belajar komunitas tersebut;

6.      Memberikan bimbingan penggunaan bahan pustaka sebagai sumber informasi dalam belajar.

Beberapa cara yang dapat ditempuh perpustakaan dalam membangun komunitas baca antara lain:

1.      Metode Mabulir

Mabulir merupakan kependekan dari majalah dan buku bergilir. Dalam metode ini perpustakaan dapat meminjamkan koleksinya kepada kelompok-kelompok kecil masyarakat. Secara teknis pihak pengelola perpustakaan tidak harus datang ke lokasi kelompok, akan tetapi cukup membuat surat pemberitahuan pada kelompok tersebut bahwa ada layanan untuk peminjaman untuk kelompok. Tiap-tiap kelompok dapat mengirimkan surat permintaan peminjaman bahan pustaka dengan melampirkan susunan pengurus/penanggung jawab. Peminjaman dapat dilakukan dalam kurun waktu 3 bulan atau satu semester setelah dikembalikan maka bahan pustaka tersebut dipinjamkan pada kelompok lain secara bergantian.

2.      Perpustakaan Keliling

Metode ini memungkinkan penjangkauan lokasi yang letaknya agak jauh. Metode ini sangat efektif bila diterapkan pada basis-basis kelompok masyarakat seperti sekolah, pasar, mal atau tempat keramaian yang lain.

3.     Story Telling

Story telling biasanya dilakukan untuk kelompok yang terdiri dari anak-anak. Metode story telling diharapkan dapat meningkatkan minat anak untuk membaca. Cerita yang dibacakan atau dibawakan diharapkan dapat merangsang keinginan anak untuk mengetahui lebih lanjut cerita yang lebih seru dan, pada gilirannya,  merangsang minat mereka untuk membaca buku.

4.      Pameran

Sosialisasi perpustakaan yang dilaksanakan secara intens akan lebih meyakinkan masyarakat bahwa perpustakaan benar-benar merupakan sumber pengetahuan dan hal ini akan memberikan nilai positif bagi citra perpustakaan di masyarakat. Melalui  pameran juga bisa dihimpun relawan yang dapat membantu pembentukan komunitas baca sehingga jangkauan perpustakaan dapat lebih luas.

Dalam melakukan misi sebagai fasilitator pembelajaran seumur hidup ada beberapa masalah yang mungkin dihadapi, antara lain:

1.      Bahan pustaka hilang atau tidak kembali

Bahan pustaka rusak atau hilang merupakan hal yang biasa di perpustakaan. Untuk meminimalkan hal tersebut perpustakaan sangat memerlukan susunan penanggung jawab dari kelompok pengguna sehingga ada kejelasan dalam pelacakan bahan pustaka yang dipinjam

2.       Bahan pustaka yang ada tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna

Surat permintaan peminjaman bahan pustaka yang diajukan kelompok pengguna diharapkan dapat memberikan jalan tengah untuk menyesuaikan ketersediaan koleksi dengan kebutuhan pengguna. Dengan demikian  diharapkan bahan pustaka benar-benar dapat dimanfaatkan dan tepat sasaran.

3.      Tidak adanya tanggapan yang positif dari keompok sasaran

Ada beberapa hal yang menyebabkan hal ini terjadi antara lain: kurangnya sosialisasi, pengguna tidak yakin dengan pelayanan yang diberikan, pengguna merasa bingung dalam memanfaatkan layanan yang ditawarkan dan tidak adanya rangsangan yang membuat pengguna tertarik mengambil layanan itu.

 

Untuk mengatasi permasalahan yang mungkin timbul di atas, dapat diambil langkah-langh sebagai berikut:

a.            Melakukan sosialisasi maupun promosi yang dibuat semenarik mungkin;

b.            Survei terhadap kebutuhan pengguna;

c.             Memilah-milah subjek koleksi bahan pustaka sehingga pengguna lebih mudah dalam memilih koleksi yang sesuai dengan kebutuhannya

d.            Menerapkan sistem reward bagi komunitas atau pengguna yang berprestasi atau yang paling aktif atau yang terbaik

Dengan menerapkan konsep perpustakaan sebagai tempat belajar seumur hidup diharapkan dapat terselesaikan masalah kemiskinan informasi yang akan membuka jalan bagi terselesaikannya masalah-masalah yang lain. Karena semakin banyak informasi yang digunakan sebagai referensi akan lebih memudahkan kita dalam setiap pengambilan keputusan adan akan membuka pikiran kita bahwa ternyata banyak sekali cara yang dapat digunakan untuk memecahkan persolan kehidupan. Dengan demikian akan sangat membantu   negara dalam mewujudkan cita-cita dalam membentuk masyarakat yang adil, makmur, sejahtera dan merata.

 

E.     Kesimpulan

Dari berbagai uraian di atas, ada beberapa hal yang harus kita garis bawahi sebagai kesimpulan dari tulisan ini. Yang pertama bahwa perpustakaan sangat penting keberadaannya dalam menunjang terlaksananya pendidikan seumur hidup (lief long learning). Hal ini dikarenakan perpustakaan merupakan tempat menyimpan sumber informasi dan pengetahuan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Oleh karenanya, mulai saat ini pengelolaan terhadap perpustakaan harus ditangani lebih serius karena keberadaanya sangat potensial sebagai pendukung terwujudnya masyarakat yang berilmu pengetahuan.

Dalam menjalankan misinya sebagai tempat belajar seumur hidup perpustakaan tidak boleh hanya menunggu akan tetapi hendaknya aktif dalam memotivasi pengguna serta menciptakan inovasi layanan yang membuat penggunanya merasa betah dan terobsesi dengan perpustakaan, sehingga perpustakaan menjadi penentu pola dan kecenderungan (pattern and trend setter) perilaku masyarakat. Bila pola dan kecenderungan sudah mengarah pada perpustakaan maka persoalan rendahnya minat baca masyarakat dapat teratasi dan masyarakat dapat memperoleh haknya dalam mencari ilmu pengetahuan tanpa harus mengeluarkan biaya jutaan rupiah.

Dalam mewujudkan perpustakaan yang berbasis komunitas pustakawan harus jeli dalam menyeleksi bahan pustaka. Bahan pustaka yang dilayankan pada suatu komunitas hendaknya benar-benar sesuai dengan yang dibutuhkan sehingga kebutuhan komunitas tersebut dapat terpenuhi dan perpustakaan dapat dimanfaatkan secara optimal.

 

F.     Daftar Pustaka

 

Evens, Bob. 1996. "The Effect Of Recent Developments In University Libraries On The Research Proses" dalam " Modernizing Research Libraries". United of Kingdom: British Library

Lasa HS. 1998. :Kamus Istilah Perpustakaan". Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Mustafa, B. 1998. "Perubahan Paradigma Layanan Perpustakaan Memasuki era Teknologi Informasi" dalam Dinamika Informasi Dalam Era Globalisasi. Bandung: Rosda Karya.

Pendidikan Berumur Berlangsung Seumur Hidup. Diakses melalui http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0904/04/0502.htm

Qalyubi, Syihabuddin et al. 2003. Manajemen Strategis (Perubahan Organisasi). Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan Dan Informasi. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga.

Sa'adah, Siti. Pendidikan Seumur Hidup. Diakses melalui http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/012006/16/99forumguru.htm

 

[Eka Wardhani adalah alumnus Fakultas Adab, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)